Jadi, disinilah saya, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan. Saat pertama kali memutuskan untuk malanjutkan studi Strata 1 di Institut Pertanian Bogor, departemen ini memang tidak dilirik sama sekali. Saya lebih memilih Fakultas Kedokteran Hewan dan Departemen Biologi untuk bidang ilmu yang akan saya geluti nanti. Tapi, setelah berada disini, saya mendapat kedua departemen yang saya pilih didepartemen IPTP. Saya mendalami ilmu biologi dan mengerti mengenai manajemen kesehatan ternak. Jadi, saya tidak menyesal sama sekali.

Mulanya tidak yakin berada di departemen ini, tidak ada bayangan untuk ke depannya akan seperti apa. Namun pada akhirnya saya menyadari bahwa inilah jalan yang Allah pilihkan untuk saya lanjutkan. Ini adalah yang terbaik untuk saya. Dan saya yakin tentang itu. saya mulai mencari informasi mengenai sektor-sektor peternakan. Disadari atau tidak, sub sektor peternakan memiliki peranan yang strategis dalam kehidupan perekonomian dan pembangunan sumberdaya manusia Indonesia. Peranan ini dapat dilihat dari fungsi produk peternakan sebagai penyedia protein hewani yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tubuh manusia (Suharyanto, 2007). Protein hewani memiliki beberapa jenis asam amino esensial yang tidak dapat diperoleh dari sumber pangan lain. Dengan hal ini, sudah jelas bahwa keberlangsungan hidup masyarakat Indonesia beserta pemenuhan gizinya tidak dapat dilepaskan dari sektor peternakan.

Indonesia telah lama dikenal sebagai negara agraris yang sangat subur. Mayoritas penduduknya (sekitar 60% dari total populasi) hidup dari sektor pertanian dan bekerja sebagai petani, pekebun, peternak dan nelayan. Sebagai negara yang kaya akan hasil bumi maka Indonesia memliki potensi alam yang sangat besar, yang dapat dieksplorasi sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Di Indonesia ditemukan tidak kurang dari 945 jenis tanaman asli Indonesia yang terbagi menjadi 77 jenis sumber karbohidrat, 75 jenis sumber lemak/minyak, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 40 jenis bahan minuman, 110 jenis rempah-rempah dan bumbu-bumbuan, serta 17% species dunia ditemukan di Indonesia. Namun dari potensi alam yang sangat besar tersebut ternyata masih banyak jenis sumber daya alam yang belum dapat diolah dan dimanfaatkan secara optimal oleh bangsa Indonesia sendiri. Ironisnya, sebagian besar kebutuhan pangan telah tergantung impor dari negara lain (Agus, 2006).

Pemenuhan kebutuhan masyarakat Indonesia akan produk peternakan memang dapat dikatakan belum memenuhi. Hal inilah yang menyebabkan negara kita terus melakukan impor produk peternakan seperti daging dan susu dari luar negeri. Padahal peternakan rakyat dapat dikembangkan dengan baik sehingga pada akhirnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia akan produk-produk peternakan. Pengembangan peternakan inilah yang menjadi tugas dari sarjana-sarjana peternakan.

Dalam menangani masalah impor produk peternakan dari luar, pemerintah mencanangkan program Swasembada Daging 2014. Program swasembada daging merupakan sebuah program yang melibatkan segenap masyarakat untuk memenuhi kebutuhan daging yang diperoleh dari dalam negeri (Anonim, 2010). Peranan sarjana peternakan jelas mempengaruhi berjalannya program ini. Sarjana peternakan akan terpacu untuk merintis manajemen peternakan yang paling optimal untuk menghasilkan ternak-ternak dengan kualitas dan kuantitas daging yang maksimal. Selain itu, Ketua Dewan Persusuan Nasional Teguh Boediyana juga mengatakan bahwa menuju swasembada daging tidaklah mudah. Pasalnya, 70% kebutuhan konsumsi daging di Indonesia masih diperoleh melalui impor (Anonim, 2010). Dengan demikian, begitu dibutuhkannya peran sarjana peternakan untuk ikut turun tangan menyelesaikan program dan masalah-masalah yang terjadi di Indonesia karena di sinilah peran penting sarjana peternakan untuk menguatkan industri peternakan domestik jadi tuan rumah di negeri sendiri (Yudi, 2010).

Mungkin dulu saya tidak pernah memilih Peternakan sebagai sektor yang akan saya jalani. Dulu, sebelum saya tahu betapa pentingnya sektor ini dalam perkembangan suatu negara (khususnya negara berkembang seperti Indonesia). Namun, jika lebih awal saya mengetahui semua hal yang baru tercetak setelah saya berada di lingkungan ini, mungkin peternakan akan menjadi pilihan pertama yang saya ambil.

Agus, Ali. 2006. Tantangan Nyata Sarjana Peternakan Indonesia. http://nasih.staff.ugm.ac.id [25 November 2010]
Anonim. 2010. Swasembada Daging 2014. http://www.duniaveteriner.com [25 November 2010]
Suharyanto. 2007. Pengembangan Peternakan Integratif Berbasis Kewilayahan. http://suharyanto.wordpress.com [25 November 2010]
Yudi. 2010. Dalam : Tekad Swasembada Daging dari ISPI. http://www.agrina-online.com. [25 November 2010]